
"Cara setting pertama untuk penggunaan jalan raya, atau track use yang pertama harus mengukur preload dulu. Cari preload yang benar," ujar Direktur Ohlins Indonesia, Eddy Saputra di Jakarta.
Lanjut Eddy menjelaskan cara untuk mencari preload (ketika per dapat tekanan) yang benar adalah dengan cara mengukur bobot pengemudi beserta barang yang digunakannya. "Jadi bobot pengendara dengan perlengkapan full naik ke motor, nanti diukur, nanti dicari free sug (bobot motor ketika digantung dengan standar dua, lalu diturunkan)-nya dan itu jadi patokannya," ucapnya.
"Setelah itu cari kompresi (ketika shockbreaker menekan) dan rebound (ketika kembali dari penekanan) nya untuk shockbreaker depan dan belakang," tambah Eddy. Selain itu untuk pengguna jalan raya free sugnya lebih tinggi, karena di jalan raya tidak selalu rata kondisi jalannya.
"Jadi lebih empuk, kalau di trek balap pasti lebih rigid (terus tertekan), atau lebih keras jadi free sug nya lebih rendah," ucap Eddy.
Sementara itu di dunia suspensi juga dikenal istilah low speed dan high speed suspension. Namun ini bukan terkait dengan kecepatan motor. "Itu fungsi speednya pada saat pistonnya bekerja, pada saat ngehajar lobangan," ujar Eddy.
Untuk fungsinya sendiri, high speed itu kebanyakan dipergunakan di shock motor motocross. "Kalau low speed dia buat di track atau jalan raya, daily use, ga perlu jamping-jumping kan," tutur Eddy.
Eddy juga memberi gambaran bahwa untuk penggunaan sehari-hari tidak perlu menggunakan high speed. "Tadi saya kasih teorinya kan, dia grafiknya MotoGP yang 240 hp aja cuma low speed. Kecuali kalau dia jumping yang 4 meter, 5 meter. Speednya kan beda," ucap Eddy.
Selain itu Eddy juga menjelaskan bahwa tidak akan ada gunanya apabila high speed digunakan untuk sehari-hari.
"Ya ga bakal bekerja dong, dia kan belum kena speednya yang bener. Jadi keras terus (suspensinya), ga bakal bekerja, kecuali kalau kena jaglugan banget nah baru bekerja terasa fungsinya. Kalau di balik fungsinya hilang," tambah Eddy.