Selasa, 10 Januari 2017

Toyota Sempat 'Berdarah-darah' Saat Mau Ekspor Mobil ke Timur Tengah

Melakukan ekspor ke Timur Tengah merupakan salah satu hal yang paling krusial dalam sejarah keberadaan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN). Kualitas mobil yang sempat dipertanyakan tak membuat TMMIN menyerah dan mundur dari ekspor barang ke Timur tengah.

Toyota Sempat Berdarah-darah Saat Mau Ekspor Mobil ke Timur Tengah

"Situasi kritikal yang kita hadapi terus terang saya di TMMIN yang paling menantang waktu pertama kali kita ekspor ke Timur tengah karena nggak gampang masuk ke Timur Tengah. Karena Timur Tengah tahunya kita orang gitu, jadi bayangin kalau mobil dibikin di Indonesia pasti image dan sensitivity-nya beda bahkan kualitas kita harus lebih bagus dari Thailand dan Jepang," kata Direktur Administrasi PT TMMIN, Bob Azam dalam sebuah diskusi di Jakarta.

Meski begitu TMMIN akhirnya berhasil mengekspor untuk pertama kalinya ke Timur Tengah di tahun 2005-2006 dengan produk Kijang Innova.

"Kalau diekspor dari Jepang ada cacat sedikit dia bisa terima tapi kalau di Indonesia ada salah dikit ya ributnya kemana-mana. Jadi yang paling berat tuh waktu pertama kali menjadi eksportir ke Timur Tengah, 2005-2006. Waktu itu Kijang dulu yang baru Innova, Innova kan 2004 kan global model nah itu yang berat karena pertama kali kita ikut serta di global model. Biasanya kita bikin model untuk domestik aja, pasti preference-nya kan domestik customer tapi waktu kita bikin global model kita harus mempertimbangkan konsumen-konsumen di luar Indonesia yang mungkin preference-nya beda, nah itu pertama kali kita mind set-nya memang harus berubah total, kemudian kualitas juga harus berubah total," lanjut Bob.

Selain Innova, TMMIN juga melakukan ekspor untuk produk Fortuner yang sebelumnya ekspor ke Timur Tengah dilakukan Thailand. TMMIN berhasil bersaing dengan melakukan sejumlah efisiensi.

"Kemudian yang kedua juga waktu kita Fortuner, terus terang waktu itu diproduksi di Thailand, nah Thailand itu waktu itu strukturnya, struktur cost pasti lebih kompetitif dari kita karena suppliernya banyak dan terus economic scalenya besar, nah kita sama Toyota Motor Corporation (TMC) dibilang 'lo mau ekspor ke Timur Tengah silahkan asal harganya sama kaya Thailand. Nah sekarang kalau biaya produksi kita lebih tinggi dan di sana harganya lebih murah berarti kita rugi kan belum lagi dianggap dumping, tapi risiko itu kita lewati karena kita percaya kalau kita melakukan efisiensi kita bisa mencapai level profitability yang sama seperti Thailand walaupun kita berdarah-darah kita ambil tantangan ekspor Fortuner ke Timur Tengah," ungkpa Bob.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar